Pembantaian di Kuta Reh kembali diperbincangkan di luar negeri. Sebagaimana dikatakan Asnawi Ali, masyarakat Aceh di Swedia. Mereka akan menuntut pemerintah Belanda terkait pembantaan paling mengerikan tersebut [Harian Aceh, 18 September 2011]

Banyak hal yang membuat pembantaian itu terjadi, mulai dari kelelahan para marsose, nafsu biologis yang tak terpenuhi, perselingkuhan di antara para istri marsose, hingga silang membunuh antara tentara elit Belanda itu pasa masa tesrebut. Hal itu diperparah dengan serangan dadakan dari pejuang Aceh yang tak mampu dihadapi. H C Zentgraaff dalam buku “Atjeh” mengambarkan para pelaku penyerangan itu sebagai “hantu-hantu di Blang”.

Menurut Asnawi Ali, pembantaian pada 14 Juni 1904 itu membuat 2.992 rakyat Aceh di Gayo tewas, 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan. Tapi menurut catatan Kempes dan Zentgraaff korban pembantaian itu mencapai 4.000 orang. Usaha untuk menggugat pemerintah Belanda tersebut sangat terbantu dengan adanya pengakuan-pengakuan dari pihak Belanda sendiri tentang kekejaman Belanda di Kuta Reh, seperti Zentgraaff dan Kempes. Ditambah lagi dengan dukungan foto-foto setelah pembantaian terjadi. Salah satunya adalah foto dengan keterangan “hier werd iets groots verricht” yang menunjukkan ratusan marsose berdiri di salah satu sisi benteng Kuta Reh dengan gelimpangan ratusan mayat di dalamnya.




Kempes juga mendokumentasikan sisi lain di Benteng Kuta Reh dengan mayat-mayat bergelimpangan di dekat sebuah lubang. Yang paling sadis adalah foto Kempes yang memotret hampir seluruh isi benteng Kuta Reh dengan bangunan-bangunan di dalamnya di bawah pohon durian. Sekeliling bangunan itu sudah digali dan mayat-mayat di susun di dalam galian tersebut. Mungkin Kempes mendokumentasikannya ketika mayat-mayat itu hendak dikuburkan. 

Foto lainnya menunjukkan seorang pria renta dengan perempuan dan anak-anak tergeletak tak bernyawa di dekat bangunan krong (tempat penyimpanan padi) dan sebuah rumah. Melalui foto-foto itu, Kempes sudah lebih dari cukup bercerita tentang kekajaman Belanda di Kuta Reh.

Pembantaian di Kuta Reh itu bermula dari keinginan Gubernur Militer Belanda di Aceh, Van Huetsz untuk menaklukkan seluruh Aceh seteplah raja Aceh Sulthan Muhammad Daud Syah menyerah pada 1903. Ia memerintahkan Van Daalen untuk menyerang daerah Gayo Lues pada 1904.

Perjalanan menuju ke Gayo tidaklah mudah. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, mereka selalu di serang oleh pejuang Aceh di beberapa tempat, ditambah lagi mereka harus naik turun bukit. Untuk menghibur para marsose itu, Van Huetsz merasa perlu mengirim istri-istri mereka ke sana melalui Kuala Simpang. Para wanita itu dikirim oleh Rammerswall, kepala depot 800 pekerja paksa di Kuala Simpang. 


Pengiriman itu sangat merepotkan Rammerswall. Dari Kuala Simpang, transportasi barisan perempuan-perempuan itu dilakukan dengan naik perahu sampai ke Kalue. Dari sana para pekerja paksa mengangkut barang-barang mereka sampai ke Pinding, terus melewati Gunung Burni Gajah. Namun, di tengah perjalanan melelahkan itu, sebelum sampai ke Blangkejeren banyak istri marsose yang memilih kembali ke Langsa. 


Sementara perempuan-perempuan yang melanjutkan perjalanannya ke Blangkejeren merupakan perempuan-perempuan tua Ambon yang oleh Zentgraaff digambarkan sebagai perempuan-perempuan kasar jenis “tartar” yang berwajah kusam yang tidak lagi menggoda, bahkan bagi pengawal rombongan itu sekalipun. Inilah yang kemudian menjadi masalah baru, hingga menimbulkan perselingkuhan antara marsose dengan istri kawannya. Banyak marsose yang prustasi hingga menembak komandan dan kawan sepasukannya sendiri.

Keberingasan marsose itu berdampak pada penyerangan-penyerangan selanjutnya ke berbagai daerah operasi. Mereka menjadi pasukan yang di luar kendali dan bertindak brutal. Mulai dari penyerangan ke Gayo Laut, Gayo Deret, sampai kemudian Van Daalen dan pasukannya pada 9 Maret 1904 menyerang Gampong Kela sebuah daerah terpencl di Gayo Lues pada masa itu.

Mulai dari kampung itulah penaklukan demi penaklukan dilakukan Van Daalen, dimulai dari benteng pasir (16 Maret 1904), Gemuyung (18,19,20 Maret 1904), Durin (22 Maret 1904), Badak (4 April 1904), Rikit Gaib (21 April 1904), Penosan (11 Mei 1904), Tampeng (18 Mei 1904). 

Hampir seluruh isi benteng dimusnahkan dan yang luka-luka tertawan akhirnya dibunuh. Menurut catatan Keempes dan Zentegraaf hampir 4000 rakyat Gayo dan Alas gugur, termasuk pejuang Gayo seperti Aman Linting, Aman Jata, H Sulaiman, Lebe Jogam, Srikandi Inen Manyak Tri, Dimus dan lain-lain.

Setelah menaklukkan Gayo Lues pasukan Belanda kemudian menuju Tanah Alas. Mereka baru kembali lagi ke Gayo Lues pada tahun 1905 untuk menyusun pemerintahan. Belanda kemudian membentuk Pemerintahan Sipil yang disebut Onder Afdeling (Kabupaten). 

Onder Afdeling Gayo lues membawahi tiga daerah yang disebut Landchap (Kecamatan), yaitu: Landchaap Gayo Lues di Blang Kejeren dikepalai oleh Aman Safii. Landchap Batu Mbulan dikepalai oleh Berakan. Landchap Bambel dikepalai oleh Syahidin.

Sejak 1905 – 1942 Tanah Alas tunduk ke Gayo Lues. Tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat terhadap Belanda di Blang Kejeren yang dipimpin oleh Muhammad Din, pemberontakan gagal. Muhammad Din ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Irian Jaya) sedangkan kawan-kawannya dibuang ke Cilacap, Sukamiskin dan Madura.[]

0 comments:

Post a Comment

 
Top